Minggu, 05 Juni 2011

info

Menulis Buku Itu Mudah!
Oleh: Edo Segara

1. Cek niat dan motivasi menulis Anda!
Ibarat sholat, menulis pun harus kita niatkan. Apa niat dan motivasi kita dalam menulis? Popularitas, dakwah, sekedar hobi, atau ingin menjadi penulis? Mengapa perlu diniatkan segala, karena ini akan menentukan konsistensi kita dalam menekuni dunia tulis-menulis serta output hasil tulisan yang kita hasilkan. Menurut saya, paling tidak ada 3 macam niat/motivasi orang menulis :
a) Iseng-iseng
Ada sebagian orang yang menulis karena iseng saja. Kalo motivasinya ini, saya jamin karya Anda pun tidak serius alias cuma iseng-iseng saja. Karena arti iseng sendiri adalah mengerjakan sesuatu hanya untuk mengisi waktu luang atau main-main.
b) Karena hobi (Memuaskan hasrat menulis)
Menulis juga ada yang karena hobi. Misal menulis diary (catatan harian), menulis diblog, dll. Ini sudah lebih maju satu langkah ketimbang hanya iseng, mengapa? Karena banyak juga yang karena hobi menulis catatan harian, bisa menjadi karya yang fenomenal. Contoh, “Catatan Seorang Demonstran” Soe Hok Gie, “Catatan Hati Seorang Istri” Asma Nadia, “The Gokiel Mom” Dita Khocan, dll. Ada juga beberapa orang yang mendapat hadiah dan penghargaan karena hobinya menulis diblog.
c) Menekuni profesi menulis
Jika ini yang menjadi pilihan Anda dalam menulis, maka memang Anda harus betul-betul serius menekuni dunia tulis-menulis. Menjadi penulis profesional juga bukan sesuatu yang instan. Penulis profesional juga ada kalanya pernah ditolak penerbit. Namun, tak perlu kecil hati ketika ditolak penerbit. Karena penulis yang kreatif, tak kehabisan akal ketika ditolak penerbit.
2. Menulis Itu Mudah!

Mengapa saya bilang menulis itu mudah? Karena sejak TK kita sebenarnya sudah diajari menulis. Di waktu SD bukankah kita diajari mengarang? Nah, artinya kita semua sudah punya potensi untuk mengembangkan minat menulis. Bahkan sebenarnya menulis tidak perlu training, lho? Sekarang kan juga pelatihan. Training ini hanya menstimulus atau memotivasi. Selebihnya kemauan besar Anda-anda semua.

Saya kutip dari buku Kang Arul, “The Complete Guide For Writerpreneurship”. Setidaknya ada 4 langkah untuk menjadi penulis, diantaranya adalah:

1. Jagalah stamina menulis dengan catatan harian!

Banyak penulis yang membiasakan dengan menulis diary. Dengan begitu, tulisan-tulisan mereka akan mengalir lancar sama seperti mereka menulis secara bebas dalam catatan harian. Banyak tokoh yang menulis catatan harian, seperti: Bung Karno, Bung Hatta, Soe Hok Gie, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dll.

2. Bergaulah dengan penulis!

Gaul dengan penjual minyak wangi akan kecipratan minyak wangi. Gaul dengan pedagang akan bermental pedagang. Gaul dengan dokter akan banyak tau dengan kedokteran. Gaul dengan ustadz, akan banyak tahu tentang ilmu agama. Gaul dengan aktivis, akan terpengaruh dengan gaya-gaya aktivis. Begitu juga dengan penulis! Gaul dengan penulis akan memotivasi kita untuk jadi penulis juga.

3. Rajin-rajinlah membaca tulisan orang lain!

Dengan membaca tulisan orang, kita akan tahu kelebihan dan kekurangan tulisan orang. Kita akan bisa menilai mana tulisan yang berbobot, mana yang tidak. Kita juga akan mendapatkan diksi (pilihan kata) yang kaya dari penulis lain.

4. Selalu berinovasi!

Jangan hanya terpaku dengan satu model tulisan. Kalau bisa, kreasikan model tulisan dengan gaya kita sendiri. Gaya menulis yang sering kita baca sekarang ini sebenarnya juga berasal dari proses kreatif para penulis di masa lalunya. Mereka mencoba-coba membuat model tulisan. Akhirnya, jadilah model tulisan esai, artikel, cerpen, puisi dst.




3. Mau Menulis Tapi Susah?
Mulailah dengan membuat beberapa pertanyaan yang terkait dengan tema yang hendak kita tulis. Lalu jawablah pertanyaan yang telah dibuat tadi. Setelah jawaban sudah tertulis semua, hapuslah kalimat pertanyaannya. Maka, semua jawaban tadi sudah menjadi beberapa paragraf. Segera membuat Outline, untuk mempermudah Anda dalam menuangkan ide-ide Anda dalam menulis buku.
4. Naskah yang bagus Vs Penulis yang populer
Benar kata Kang Arul, penulis yang sudah menulis kurang lebih 200 naskah buku (fiksi, non fiksi, biografi dll.), bahwa menulis artinya memasuki dunia bisnis. Maka, ketika kita mengajukan naskah ke penerbit sekiranya memang “yang layak jual” (marketable). Mau tidak mau memang kita harus mengurangi idealisme kita dalam menulis. Mengurangi idealisme disini bukan berarti menjual idealisme kita, namun maksudnya adalah kita harus mau berkompromi dengan pihak penerbit melalui editor kita.
Mana yang lebih laku, naskah yang bagus minus nama penulis atau penulis yang populer tetapi naskah yang biasa-biasa saja? Menurut saya, keduanya sama-sama memiliki daya jual. Ya, naskah yang bagus bisa menjadikan buku tersebut best seller, begitu juga dengan penulis yang punya nama, punya market tersendiri. Lebih bagus, penulis punya nama didukung naskah yang bagus.
5. Sekarang Banyak Layanan Self Publishing
Jika naskah Anda ditolak penerbit, jangan takut dan bersedih. Anda bisa terbitkan sendiri. Atau anda bisa menggunakan jasa layanan self publishing tanpa biaya seperti nulisbuku.com atau Leutika Prioritas. Untuk infonya anda bisa buka www.nulisbuku.com atau www.leutika.com. Sebenarnya masih banyak layanan-layanan self publishing lain.
6. Siapkan Cover & Desain isi buku
Untuk cover dan desain isi buku, Anda bisa menyerahkan urusan ini ke desainer yang biasa dalam mengolah cover dan isi buku. Ada juga desainer yang hanya memiliki keahlian hanya membuat cover, tapi ada juga yang hanya bisa mendesain isi buku atau malah kedua-duanya. Untuk masalah ini semua terserah Anda. Kalau bisa sebelum order cover + isi buku, Anda buat perjanjian kalau tidak cocok bisa Anda tidak bayar. Artinya desainer harus mendesainkan sesuai keinginan kita betul-betul.


7. Mengurus ISBN Itu Mudah!
Ternyata, mengurus ISBN itu sangat mudah. tidak serumit dan semahal yang saya bayangkan sebelum masuk ke penerbit. Tapi, walaupun mudah bagi yang tidak tahu itu adalah sebuah 'misteri'.

Berikut beberapa persyaratan yang diperlukan dalam mengurus ISBN:
- Surat permohonan ISBN
- Surat Pernyataan akan mengikuti sistem katalog di Perpusnas
- Melampirkan surat pengantar buku (dari penerbit atau penulis, terserah)
- Melampirkan daftar isi buku yang hendak diterbitkan
- Melampirkan halaman judul (cover dilampirkan lebih baik)
- Melampirkan halaman copyright (yang biasanya berisi judul,penulis, editor, lay outer, desainer, penerbit, informasi cetakan dsb.)

Pembayaran:
- Untuk mendapatkan nomor ISBN saja, cukup membayar 25 ribu.
- Jika sekaligus dengan barcode, bayarnya 60 ribu.

Proses:
- Anda cukup menyerahkan persyaratan tersebut di atas pada bagian ISBN di Perpustakaan Nasional di daerah Matraman. besoknya Anda tinggal mengambil di tempat yang sama sekalian bayar. Anda akan diberi sebuah CD yang di dalamnya berisi nomor ISBN dan barcode buku Anda. Mudah bukan...!?

Adapun alamat lengkap Perpustakaan Nasional adalah di Jl. Salemba Raya 28A Jakarta 10430 Kotak Pos 3624 Jakarta 10002 Telp. 021-3922669, 3922749.
8. Distribusi buku
Ini bagian terakhir, namun masalah yang krusial yang sering dihadapi penulis. Jika tulisan kita diterbitkan mungkin masalah distribusi bukan menjadi masalah yang penting bagi kita. Namun, ketika kita memutuskan menerbitkan buku kita sendiri, kita perlu tau seluk-beluk distribusi buku. Kalau mau enak, mungkin kita bisa menyerahkan pada distributor-distributor besar. Seperti Gramedia, Buku Kita dll. Nah, sekarang saatnya Anda menulis! 
***
Twitter: @EdoSegara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar