Minggu, 05 Juni 2011

my friends





coretan kecil ku

18 MEI 2011
Aku (nerd) dan Perpustakaan
Bismillahirohmannirohim..........
Disini senbenarnya tak tahu apa yang akan aku tuliskan...tapi aku rindu untuk menuliskan apa yang ada dalam benak ku....hingga saat jemari ku mengetik ini pun lamunan ku masih belum sempurna untuk memikat azzam ku menulis..akhirnya aku menulis kata ini lah sebagai bahan tulisanku.....gak tahu juga kenapa aku menulis judul seperti diatas,,,,tapi setidak nya itu akan menambah inspirasi ku...ya sudah lah...mungkin kaerna hari – hari ini aku sedang happy2 nya baca buku THE KEYWORD yang aku dapat kan gratisan kemarin so,kayaknya aku pengen crita aja dech tentang aku,nerd buku dan perpustakaan.hhehhehee
***
Ok.siap di mulai yaaaa..... 
Aku dibesarkan di lingkungan yang sangat sederhana di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota,background pendidikan orang tua ku pun hanya sampai pada tingkat SMP.meski orang tua ku bukan kalangan Elite Intelektual,tapi aku berkembang menjadi anak yang tergolong rajin membaca,aku sangat suka membaca....tak peduli,bacaan apa saja yang aku temui aku baca, dari buku- buku textbook yang di pinjamkan sekolah hingga bungkus tempe dan koran bungkus ikan laut yang ibu ku beli dari pasar pun sering aku baca.aku masih ingat ketika pertama kali bapak ku membelikan aku buku bahasa inggris dan atlas dunia,,buku itulah buku pertama yang ku miliki saat aku mulai gemar membaca,,dan sampai saat ini buku bahasa inggris berjudul belajar Cepat Mahirberbahasa Inggris Sistem 18 jam itu masih aku rawat meski sudah terlihat kusam dan buku ini pun yang membuat ku suka belajar bahasa inggris,,kini buku itu aku wariskan kepada adik ku yang duduk di bangku kelas tiga SD.
Di desa tempat aku masa sekolah dulu yang namanya perpustakaan belumlah seperti sekarang ini....yang namanya buku referensi dan bacaan ya hanya lah buku LKS dan textbook pelajaran sekolah, padahal aku saat itu sangat suka cerpen.ketika pelajaran bahasa indonesia aku sangat antusias,,apalagi ketika di minta ibu guru membaca cerpen di LKS.masih sangat jelas aku ingat ketika aku kelas empat SD, buku IPS terpadu milik Ibu nurdiyati,salh seorang guru terbaik ku di SD itu menjadi rebutan antara aku dan dua orang teman ku lainya,,,sungguh sangat ironis,minat baca tinggi namun sarana dan prasarana tidak memadai,,kami saling berebut buku terbitan intan pariwara itu hingga satu halaman dari buku itu sobek.
Orang tua yang mengetahui betul bahwa aku suka membacapun ternyata merespon minat ku,beliau membeilkan ku buku- buku pelajaran sekolah yang di jadikan buku pegangan oleh para bapak ibu guru pengajar.aku sanagt senang sekali,karna teman – teman ku tak punya buku yang aku miliki,dan teman2 pasti berkumpul belajar di rumah ku untuk Mengerjakan tugas bersama. Karena buku- buku itulah prestasi belajar ku meningkat dan orang tua ku selalu menjanjikan untuk membelikan aku sebuah buku ketika aku mendapatkan ranking di kelas.
Saat memasuki bangku SMPaku bersekolah di sebuah SMP di kecamatan,ya aku memang masih di pinggiran tak begitu jauh dari Rumah ku,,aku mulai dapa tersenyum manis karena SMP tempat aku bersekolah sudah mempunyai Perpustakaan.ya Hal ini jauh lebih baik daripada kondisi ketika aku SD.
Perpustakaan di SMP yang luasnya sekitar 2,5 X 6 M inibisa di bilang sangat sempit,,apalagi koleksi bahan pustakanya juga tidak terlalu banyak,hanya berisi buku- buku pelajaran dan buku- buku satra..tak ada ensiklopedi ataupun karya- karya asing di rak perpustakaan itu.jam buka perpustakaan pun hanya ketika jam istirahat,hal ini di karenakan tidak ada tenaga khusus yang bertugas mengelola perpustakaan, Bu Tri dan Bu heni adalah guru bahasa indonesia dan Guru Ekonomi yang selalu meluangkan waktu ketika jam istirahat untuk membuka pelayanan di perpustakaan.
Setiap jam istirahat aku pasti bermain dengan buku- buku yang ada di perpustakaan mungil itu...sering kali aku meminjam buku- buku sasStra ketika tidak ada tugas pelajaran sekolah.
Suatu sore ketika Aku sedang Asyik membaca sebuah novel karya Buya HAMKA,tenggelamnya Kapal Van der Wijk,ups.....bapak ku melihat buku yang aku baca,beliau menegurku halus
“buku opo sing kok woco nduk??mbok yo buku pelajaran ae.ojo nganeh- aneh??”
Yah begitu lah bapak ku, beliau memang terkadang sedikit protektif,beliau memintaku hanya membaca buku- buku yang ada kaitan nya dengan pelajaran sekolah...tapi aku terkadang juga tak menghirau kan perintah orang tua ku,setiap kali aku meminjam buku di perpustakaan, jatah maksimal dua buku itu akau pasti meminjam satu buku sastra entah itu novel atau pun cerpen,hingga ibu Tri,guru bahasa kesayangan ku itu sudah hafal kalau setiap meminjam buku pasti satu buku pelajaran dan satu buku Sastra.sedikit nakal juag,aku sering menggunakan kartu perpustakaan temanku untuk meminjanm buku,yah aku pikir itu adalah cara nakal yang piter n bermanfaat. 
Ada satu kisah menarik yang aku alami berkaitan segala momen yang terjadi di perpustakaan dari aksi rebutan buku bacaan dengan teman hingga menemukan surat cinta yang terselip di sebuah buku..sepertinya kok lebay banget ya,kayak kisah- kisah sinetron.bedanya kalau sekarang cerita- cerita cinta dirangkai di tempat- tempat “sepi” atau romantis,,saat itu perpustakaan menjadi tempat asyik untuk membuat janji dengan si Doi.yah tak apalah dari pada perpustakaan itu sepi bagai kuburan para pahlawan abadi,atau yang di sebut dead author oleh pak Putu L.pendit di Buku The Key Word:perpustakaan Di Mata Masyarakat.
Ketika itu aku meminjam sebuah Cerpen Yang berjudul Cowok Cantik,tak ku sangka-tak terduga di dalam buku tersebut ada secarik kertas Cantik berisi surat cinta,,,,hmmmm,sayang nya surat cinta itu bukan untuk ku.hehehe 
***
Memasuki Bangku pendidikan Di SMA,,keinginan ku untuk mengkonsumsi pengetahuan dari buku semakin menjadi.Senang rasanya karena perpustakaan SMA ini jauh lebih baik dari Perpustakaan SMP ku.yah,,minimal perpustakaan Ini berdiri dengan gedung tersendiri seluas 7x7 m.tak seperti perustakaan SMP yang mungkin letaknya terjepit diantara ruang kelas.koleksi bukunya pun jauh lebih banyak,aku sedikit di manjakan oleh beragam buku yang ada.seneng banget lah pokoknya.
Perpustakaan ini di kelola oleh seorang petugas perpustakaan lulusan D3 Akuntasi, karena pelatihan yang di ikutinya lah beliau menjadi petugas perpustakaan.beliau lumayan ramah.bahakn sering aku curhat atau pun minta diajari ketika ada tugas yang tak bisa aku selesaikan.Dan sebenarnya,karena kedekatan ku dengan buku,perpustakaan serta petugas perpustakaan yang sering ku sapa mbak sri inilah yang mengukuh kan azzam ku untuk mengambil jurusan Ilmu perpustakaan. Dari beliau lah aku mencari tahu informasi perguruan tinggi tempat aku mengeyam bangku kuliah saat ini. Masih sangat aku ingat bagaimana aku merengek- rengek minta di ajari membuat Call Number dan Katalog,,cukup sulit juga saat aku belajar.bahkan saking penasaranya aku meminjam paksa buku persepuluahan DDC edisi Ringkas. Di rumah aku pelajari sedikit demi sedikit tapi aku pun tak kunjung paham,hehehe
Ada satu cerita lucu ketika aku sedang membaca buku di sudut Rumah Gudang Ilmu tersebut,sebuah buku berjudul Dawai Cinta,buku hardcover Pink itu memang di taruh di rak, tapi tidak di pinjamkan,hanya boleh di baca di tempat saja.hingga ada seorang guru yang menegurku
“kamu itu belum saatnya,nduk baca buku cinta- cinta ngono kuwi??nanti saja kalau sudah GedE”
Hmmm,,,,perasaan Seumuran anak SMAkelas 1 gini gak Bakalan Tabu-tabu amat bicara soal cinta. 
Ada pula buku seri Harry Potter yang malah di simpan oleh mbak sri, ketika aku tanya alasannya kenapa,eh ternyata takut jika buku tersebut Hilang.hmmmm,cukup membingungkan.tapi iya juga sih,tak menuntup kemungkinan tindakan kriminal terjadi di perpustakaan.hehehehe
Perpustakaan ini multi fungsi juga,tak hanya sebagai membaca,tempat belajar,atau pun rekreasi malah perpustakaanini sering di gunakan untuk ruang rapat,diskusi kelas,gossip bahkan tempat”mojok” para pengukir jisah kasih di sekolah.lengkap sudah fungsi perpustakaan. Jadi memurut aku,tulisan “HARAP TENANG” di dinding- dinding perpustakaan tak berlaku lagi,jika di perpustakaan Terkesan Saklek Sepi,tak ubah nya ruangan itu layaknya kuburan elite. Desain ruang dan tata letak buku di perpustakaan itu harusnya di setting sebagus mungki sesuai kebutuhan pemustaka,sehingga para pemustaka nyaman untuk berlama- lama di dalam nya.
Karena aku sering banget berkunjung ke perpustakaan,meski hanya sekedar main aja,teman- teman ku sampai hafal kalau aku tak di kelas mereka mencariku di sudut ruangan yang merupakan surga bagiku. Tak ayal julukan kutu buku,cewek nerd pun aku sandang.sampai sekarang aku masih brtanya- tanya,Kenapa orang yang sering di perpustakaan identik Dengan Image “CUPU”???  Bagiku tak masalah karena its my self, cewek nerd itu cool kok.Nerd???why not,So what !!
Ketika akhir kelas 3 SMA,semua teman- teman lagi pada sibuk- sibuknya mengurus Pendaftaran Di PT.tapi aku masih saja tak bergeming karena orang tua ku awalnya tak mengizinkan aku untuk melanjutkan study di luar Kota. Sempat aku terpuruk kurang lebih dua minggu dan ngambek dengan orang tua ku. Tapi dengan cara itulah akhirnya ortu aku mampu meluluhkan hati ibuku,yah meski penuh perjuangan bujuk rayu untuk meyakinkan orang tua ku. Namun Tak hanya sampai disitu om dan nenek ku menginginkan aku menjadi seorang guru namun ortu memberikan kepercayaan penuh padaku mengenai jurusan apa yang akan aku pilih.
***
Aku mengikuti UMPTN jalur Reguler Di sebuah Universitas yang di suarakan kampus Rakyat,kampus perjuangan di kota budaya dan pelajar ini. Kata hatiku mengatakan bahwa pilihan prodi pertama adalah S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi,tapi mengingat keinginan nenek ku,dengan berat hati ku putuskan Pend.Kimia sebagai Pilihan pertama Dan Ilmu Perpustakaan sebagai pilihan kedua. Namun dalam hati aku berharap tidak diterima di jurusan pilihan pertama.
Alhamdulillah, Allah memang mahamengetahui.Aku di terima di Prodi Ipi,seneng bgt rasanya.
Pada suatu perjalana pulang kampung,,aku sempat ngobrol dengan kondektur bus yang aku tumpangi,
“kuliah teng pundi mbak?”
“wonten Yogyakarta mas”
“ohh.. Yogyakarta.emange urusan nopo??”
“ilmu Perpustakaan mas”.
“gek erep dadi opo?gajine ra sepiro to mbak,emange sampean betah jogo perpustakaan,sepi ngono??”
Yah itulah secuil obrolan ku dengan pak kondektur ketika di perjalanan sepanjang jalan Solo KM.15.sungguh menyedihkan.ternyata perpustakaan dimata masyarakat sangat lah rendah dan profesi sebagai pustakawan di angaap tak berkualitas hanya di pandang sebelah mata sebagai profesi kelas dua. Namun aku tak bisa diam dan pasrah begitu saja ketika orang lain nge judge purpustakaan dan segala yang terkait di dalamnya adalah hal yang gak bermutu. Aku yang memang sedikit cerewt plus bawel ini mulai beraksi berceloteh ria.ya aku sedikit demi sedikit menjelaskan seperti apa sih perpustakaan de el el.mungkin apa yang aku laukakan tak akan berpengaruh besar namun setidaknya aku berharap dengan dakwah yang simple seperti ini (mungkin) bisa mengubah mind set masyarakat terhadap brand image perpustakaan yang negativ di mata masyarat.
***
Sudah menjadi Agenda rutin dari Perpustakaan Pusat Universitas mengadak User Education bagi Mahasiswa Baru.
Subhanallah..pertama kali aku menginjakkan kaki di lantai satu Gedung perpustakaan itu,takjub rasanya. Perpustakaan yang sangat mewah,sgala sesuatunya membuatku merasa mungkin inilah sebuah perpustakaan yang bisa aku katakan benar- benar surga kenyamanan bagi pemustaka. Berbagai layanan dan informasi yang tak ada habisnya untuk di cari, sarana dan prasarana nya juga canggih.KEREN banget.T O P B.G.T lah.
Perpustakaan yang mungkin pada lantai dasar bisa di sebut layaknya Lobi Hotel ataupun Lobi bandara ini terbagi menjadi empat lantai di mana lantai satu di gunaka sebagai lobi,ruang santai dan loker.lantai dua di gunakan untuk buku- buku refernsi dan skripsi. Sedangkan lantai 3 dan 4 di isi dengan buku- buku yang di sirkulasikan. Akses Wifi yang ada di perpustakaan ini juga memanjakan para pemustaka dalam mencari informasi ataupun mungki hanya sekedar OL untuk Up date Status Facebook 
Namun ada secuil rasa sesal yang belakangan ini aku rasakan berkaitan dengan pelayanan yang aku dapat kan dari petugas perpustakaan mewah itu. Moment yang tak mengenakan hati,hal ini berawal ketika kelas mata kuliah pengantar ilmu perpustakaan, karena sang dosen sedang ada kepentingan maka kami ada kelas mandiri untuk mencari contoh kongkrit dari definisi Data,informasi dan Pengetahuan. Saat itu aku berinisiatif untuk mengajak teman- teman untuk mncari informasi data base buku yang ada di perpustakaan good Looking ini. Ketika aku mengutarakan maksud untuk di tunjukan database koleksi bahan pustaka,rasanya apa yang aku sampaikantak di dngarkan.Boro- boro di sambut senyum manis dari Raden Ngabei jogo Pustoko, ucapan salam ku saja tak di jawab.beliau langsung mengangkat inforamasi yang bertuliskan “TIDAK MELANYANI KEGIATAN SIRKULASI.SISTEM DALAM PERBAIKAN”,yah itulah tulisan yang di hadapkan tepat di dapan air muka ku. Dalam hati ku menggerutu, dan sempat mengumpat pula karana memang baru kali ini aku menemui nabi informasi yang “serem”. Dan ironisnya tak hanya aku yang mengalami kejadian tak mengenakan dengan petuga perpustakaan,banyak teman- teman ku yangjuga mengalami nasib serupa tapi tak sama dengan ku. Keluhanya semua sama yaitu:”KETIDAK NYAMANAN AKIBAT KETIDAK RAMAHAN”. Sepertinya image serem dan ngebosenin dari petugas perpustakaan ini telah tercover dalam ikiran ku.meski tak semua pustakawan seperti itu,tapi pepatah yang mengatakan karena nila setiitik rusak susu sebelangga ini bisa menjadi analogi yang cocok.karena segelintir oknum di lembaga Penyedia informasi ini ber image neegativ,maka tak menutup kemungkinan akan berpengaruh terhadap pencitraan pustakawan lain.(mungkin)
Berangkat dari peristiwa peristiwa tersebut aku ingin belajar dan belajar.agar kelak nantinya aku bisa menjadi sosok pustakawan yang menyenagkan dan bisa menjadi pustakawan yang mampu memberikan senyuman ikhlas nan manis bagi orang- orang yan berinteraksi dengan ku.dan akhirnya Aku ingin Mengikrarkan Bahwa PERpustakaan Adalah Tempat SURGA ILMU,Pustakawan adalah profesi yang Menyenangkan PLUS Pemustaka itu Bukan lah SOSOK “cupu(nerd)”.ok.ok
AKU BANGGA KULIAH DI PRODI IPI
“I WILL BECOME A FRIENDLY LIBRARIAN”

info

Menulis Buku Itu Mudah!
Oleh: Edo Segara

1. Cek niat dan motivasi menulis Anda!
Ibarat sholat, menulis pun harus kita niatkan. Apa niat dan motivasi kita dalam menulis? Popularitas, dakwah, sekedar hobi, atau ingin menjadi penulis? Mengapa perlu diniatkan segala, karena ini akan menentukan konsistensi kita dalam menekuni dunia tulis-menulis serta output hasil tulisan yang kita hasilkan. Menurut saya, paling tidak ada 3 macam niat/motivasi orang menulis :
a) Iseng-iseng
Ada sebagian orang yang menulis karena iseng saja. Kalo motivasinya ini, saya jamin karya Anda pun tidak serius alias cuma iseng-iseng saja. Karena arti iseng sendiri adalah mengerjakan sesuatu hanya untuk mengisi waktu luang atau main-main.
b) Karena hobi (Memuaskan hasrat menulis)
Menulis juga ada yang karena hobi. Misal menulis diary (catatan harian), menulis diblog, dll. Ini sudah lebih maju satu langkah ketimbang hanya iseng, mengapa? Karena banyak juga yang karena hobi menulis catatan harian, bisa menjadi karya yang fenomenal. Contoh, “Catatan Seorang Demonstran” Soe Hok Gie, “Catatan Hati Seorang Istri” Asma Nadia, “The Gokiel Mom” Dita Khocan, dll. Ada juga beberapa orang yang mendapat hadiah dan penghargaan karena hobinya menulis diblog.
c) Menekuni profesi menulis
Jika ini yang menjadi pilihan Anda dalam menulis, maka memang Anda harus betul-betul serius menekuni dunia tulis-menulis. Menjadi penulis profesional juga bukan sesuatu yang instan. Penulis profesional juga ada kalanya pernah ditolak penerbit. Namun, tak perlu kecil hati ketika ditolak penerbit. Karena penulis yang kreatif, tak kehabisan akal ketika ditolak penerbit.
2. Menulis Itu Mudah!

Mengapa saya bilang menulis itu mudah? Karena sejak TK kita sebenarnya sudah diajari menulis. Di waktu SD bukankah kita diajari mengarang? Nah, artinya kita semua sudah punya potensi untuk mengembangkan minat menulis. Bahkan sebenarnya menulis tidak perlu training, lho? Sekarang kan juga pelatihan. Training ini hanya menstimulus atau memotivasi. Selebihnya kemauan besar Anda-anda semua.

Saya kutip dari buku Kang Arul, “The Complete Guide For Writerpreneurship”. Setidaknya ada 4 langkah untuk menjadi penulis, diantaranya adalah:

1. Jagalah stamina menulis dengan catatan harian!

Banyak penulis yang membiasakan dengan menulis diary. Dengan begitu, tulisan-tulisan mereka akan mengalir lancar sama seperti mereka menulis secara bebas dalam catatan harian. Banyak tokoh yang menulis catatan harian, seperti: Bung Karno, Bung Hatta, Soe Hok Gie, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dll.

2. Bergaulah dengan penulis!

Gaul dengan penjual minyak wangi akan kecipratan minyak wangi. Gaul dengan pedagang akan bermental pedagang. Gaul dengan dokter akan banyak tau dengan kedokteran. Gaul dengan ustadz, akan banyak tahu tentang ilmu agama. Gaul dengan aktivis, akan terpengaruh dengan gaya-gaya aktivis. Begitu juga dengan penulis! Gaul dengan penulis akan memotivasi kita untuk jadi penulis juga.

3. Rajin-rajinlah membaca tulisan orang lain!

Dengan membaca tulisan orang, kita akan tahu kelebihan dan kekurangan tulisan orang. Kita akan bisa menilai mana tulisan yang berbobot, mana yang tidak. Kita juga akan mendapatkan diksi (pilihan kata) yang kaya dari penulis lain.

4. Selalu berinovasi!

Jangan hanya terpaku dengan satu model tulisan. Kalau bisa, kreasikan model tulisan dengan gaya kita sendiri. Gaya menulis yang sering kita baca sekarang ini sebenarnya juga berasal dari proses kreatif para penulis di masa lalunya. Mereka mencoba-coba membuat model tulisan. Akhirnya, jadilah model tulisan esai, artikel, cerpen, puisi dst.




3. Mau Menulis Tapi Susah?
Mulailah dengan membuat beberapa pertanyaan yang terkait dengan tema yang hendak kita tulis. Lalu jawablah pertanyaan yang telah dibuat tadi. Setelah jawaban sudah tertulis semua, hapuslah kalimat pertanyaannya. Maka, semua jawaban tadi sudah menjadi beberapa paragraf. Segera membuat Outline, untuk mempermudah Anda dalam menuangkan ide-ide Anda dalam menulis buku.
4. Naskah yang bagus Vs Penulis yang populer
Benar kata Kang Arul, penulis yang sudah menulis kurang lebih 200 naskah buku (fiksi, non fiksi, biografi dll.), bahwa menulis artinya memasuki dunia bisnis. Maka, ketika kita mengajukan naskah ke penerbit sekiranya memang “yang layak jual” (marketable). Mau tidak mau memang kita harus mengurangi idealisme kita dalam menulis. Mengurangi idealisme disini bukan berarti menjual idealisme kita, namun maksudnya adalah kita harus mau berkompromi dengan pihak penerbit melalui editor kita.
Mana yang lebih laku, naskah yang bagus minus nama penulis atau penulis yang populer tetapi naskah yang biasa-biasa saja? Menurut saya, keduanya sama-sama memiliki daya jual. Ya, naskah yang bagus bisa menjadikan buku tersebut best seller, begitu juga dengan penulis yang punya nama, punya market tersendiri. Lebih bagus, penulis punya nama didukung naskah yang bagus.
5. Sekarang Banyak Layanan Self Publishing
Jika naskah Anda ditolak penerbit, jangan takut dan bersedih. Anda bisa terbitkan sendiri. Atau anda bisa menggunakan jasa layanan self publishing tanpa biaya seperti nulisbuku.com atau Leutika Prioritas. Untuk infonya anda bisa buka www.nulisbuku.com atau www.leutika.com. Sebenarnya masih banyak layanan-layanan self publishing lain.
6. Siapkan Cover & Desain isi buku
Untuk cover dan desain isi buku, Anda bisa menyerahkan urusan ini ke desainer yang biasa dalam mengolah cover dan isi buku. Ada juga desainer yang hanya memiliki keahlian hanya membuat cover, tapi ada juga yang hanya bisa mendesain isi buku atau malah kedua-duanya. Untuk masalah ini semua terserah Anda. Kalau bisa sebelum order cover + isi buku, Anda buat perjanjian kalau tidak cocok bisa Anda tidak bayar. Artinya desainer harus mendesainkan sesuai keinginan kita betul-betul.


7. Mengurus ISBN Itu Mudah!
Ternyata, mengurus ISBN itu sangat mudah. tidak serumit dan semahal yang saya bayangkan sebelum masuk ke penerbit. Tapi, walaupun mudah bagi yang tidak tahu itu adalah sebuah 'misteri'.

Berikut beberapa persyaratan yang diperlukan dalam mengurus ISBN:
- Surat permohonan ISBN
- Surat Pernyataan akan mengikuti sistem katalog di Perpusnas
- Melampirkan surat pengantar buku (dari penerbit atau penulis, terserah)
- Melampirkan daftar isi buku yang hendak diterbitkan
- Melampirkan halaman judul (cover dilampirkan lebih baik)
- Melampirkan halaman copyright (yang biasanya berisi judul,penulis, editor, lay outer, desainer, penerbit, informasi cetakan dsb.)

Pembayaran:
- Untuk mendapatkan nomor ISBN saja, cukup membayar 25 ribu.
- Jika sekaligus dengan barcode, bayarnya 60 ribu.

Proses:
- Anda cukup menyerahkan persyaratan tersebut di atas pada bagian ISBN di Perpustakaan Nasional di daerah Matraman. besoknya Anda tinggal mengambil di tempat yang sama sekalian bayar. Anda akan diberi sebuah CD yang di dalamnya berisi nomor ISBN dan barcode buku Anda. Mudah bukan...!?

Adapun alamat lengkap Perpustakaan Nasional adalah di Jl. Salemba Raya 28A Jakarta 10430 Kotak Pos 3624 Jakarta 10002 Telp. 021-3922669, 3922749.
8. Distribusi buku
Ini bagian terakhir, namun masalah yang krusial yang sering dihadapi penulis. Jika tulisan kita diterbitkan mungkin masalah distribusi bukan menjadi masalah yang penting bagi kita. Namun, ketika kita memutuskan menerbitkan buku kita sendiri, kita perlu tau seluk-beluk distribusi buku. Kalau mau enak, mungkin kita bisa menyerahkan pada distributor-distributor besar. Seperti Gramedia, Buku Kita dll. Nah, sekarang saatnya Anda menulis! 
***
Twitter: @EdoSegara

galery foto





Liberty


ini adalah logo dari LIBERTY Study Club...
Liberty merupakan forum diskusi mahasiswa prodi IPI dan PII angkatan tahun 2010